Kembali ke Berita
ARTIKEL Artikel Islam Yayasan Nurul Islam

Maulid Nabi Ajang Mencintai Kekasih Ilahi

Dari Maulid Menuju Maḥabbah: Meneguhkan Cinta kepada Rasulullah

Ditulis oleh Abdul Goffar
22 Agustus 2026
4 kali dibaca
Maulid Nabi Ajang Mencintai Kekasih Ilahi

Segumpal cahaya mengelilingi Kota Makkah tepat saat Tahun Gajah tanggal 12 Rabiulawal tiba. Hari itu bukan hari biasa bagi umat Muslim sedunia, melainkan sebuah keistimewaan yang sangat agung bagi seluruh kalangan. Bahkan konon, paman Nabi terbebas dari siksaan-Nya terkhusus di hari di mana Baginda dilahirkan lantaran menyambut keponakannya itu dengan penuh kehangatan nan hati yang bergejolak cinta.

Hari penuh damai dan tenteram sebab kelahirannya. Hari di mana pelita itu muncul di Kota Makkah, meredakan api sesembahan Majusi yang konon selama ribuan tahun tak pernah redup. Selain itu, Istana Kisra pun runtuh seketika sebab pantulan cahaya yang sangat agung, bahkan matahari pun konon tak sempat menandingi.

Manusia pengukir dalam lintas sejarah ini sudah maklum tentunya kita temui ragam kisah yang unik di berbagai kitab turas, khususnya bahwa Nabi adalah uswah yang baik bagi seluruh kalangan. Sebab, al-Quran pun berkata demikian. Al-Quran bukan berbicara ilusi, melainkan realitas kehidupan beliau yang sangat berperangai luhur.

Nah, saat ini adalah momentum yang pas untuk menanam benih-benih cinta dan memanen buahnya. Dan saat ini adalah waktu yang sangat cocok untuk menambah dan mengisi tenaga dengan cinta—cinta yang ada dalam tuntunan agama dan cinta yang berbau surga, bukan cinta yang terbawa arus samudra.

Mencintai Allah dan manusia pilihan-Nya adalah sebuah kewajiban bagi kita. Selain menambah ketauhidan kita kepada Allah, juga menjadi syarat sahnya iman. Allah berfirman, "Kakatakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. Ali 'Imran: 31). Ayat tadi menjadi petunjuk bahwa sesiapa pun yang benar-benar mencari cinta dan rida-Nya, wajib baginya untuk mengikuti kekasih-Nya dengan penuh rasa mahabah.

Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin-nya mengutip hadis Nabi yang berbunyi, "Demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang itu dikatakan beriman sampai aku lebih dicintai daripada orang tua dan anaknya." (H.R. Bukhari/Muslim dari Abu Hurairah). Selaras dengan ungkapan di atas, terdapat potongan hadis dalam kitab yang sama yang lebih signifikan, Nabi bersabda, "Di antara manisnya iman ialah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibandingkan selain keduanya."

Allah telah mengistimewakan Nabi dalam firman-Nya yang berbunyi, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (Q.S. Al-Ahzab: 56).

Oleh karena itu, tiada apa yang kita andalkan kelak di hari yang mana harta, orang tua, dan anak tidak bermanfaat, melainkan bermodalkan cinta kepada Nabi Muhammad saw.

Bagikan berita
Semua Berita