Kembali ke Berita
ARTIKEL Artikel Islam Yayasan Nurul Islam

Salat; Solusi Beragama Yang Terlupakan

Salat Bukan Sekadar Kewajiban, tetapi Tiang Kehidupan dan Jalan Menuju Ketenangan

Ditulis oleh Abdul Goffar
22 Agustus 2026
2 kali dibaca
Salat; Solusi Beragama Yang Terlupakan

Salat merupakan ibadah yang menduduki posisi kedua dalam rukun Islam. Ibadah ini bagaikan sebuah tiang yang menopang sebuah rumah. Andaikan tiang itu tidak kuat, niscaya rumah akan mudah roboh. Dengan demikian, salat merupakan ibadah yang sangat penting bagi seorang Muslim.

Di samping itu, kewajiban salat juga muncul dengan bentuk yang lebih spesial. Ketika puasa, zakat, haji, dan ibadah yang lain akan diwajibkan, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad dalam rangka mewajibkan ibadah tersebut. Namun, beda halnya dengan salat.

Setelah beberapa tragedi yang membuat Nabi Muhammad sedih, terjadi peristiwa yang biasa kita istilahkan Isra mikraj. Di mana pada momen itu, Rasulullah diangkat untuk menghadap Sang Pencipta, lalu diberikan perintah yang berupa pelaksanaan salat lima puluh kali dalam sehari.

Namun, Nabi meminta keringanan kepada Allah selama sembilan kali setelah diberi masukan oleh Nabi Musa. Di setiap kali Nabi meminta, Allah mengurangi lima.

فُرِضَ عَلَيَّ وَعَلَى أُمَّتِيْ خَمْسِيْنَ صَلَاةً فَلَمْ أَزَلْ أُرَاجِعُهُ وَأَسْأَلُهُ التَّخْفِيْفَ حَتَّى جَعَلَهَا خَمْسًا

“Diwajibkan padaku dan pada umatku lima puluh salat. Namun aku masih berulang kali meminta keringanan hingga Allah menjadikannya lima.”

Lepas dari itu semua, salat merupakan tiang agama yang harus berdiri dengan pondasi yang kokoh. Mulai dari permulaan, pelaksanaan, hingga pasca menunaikannya, Agama membentangkan segenap aspek yang ada yang berkaitan dengan salat, baik itu perkara wajib, sunah, makruh, ataupun haram. Dan bagi yang menunaikan salat dengan baik diberi segelintir jaminan oleh Agama, yang diantaranya terhindar dari melakukan keharaman. Bahkan, ketika seseorang masih melakukan keharaman sedangkan ia sudah melaksanakan salat, sudah bisa dipastikan bahwa salat yang dilaksakannya tidak sempurna. Hal ini, sebagaiman yang disampaikan Rasulullah dalam hadisnya:

مَنْ لَمْ تَنْهِهِ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ أَيْ كَامِلَةٌ

 “Barangsiapa yang salatnya tidak mencegah ia dari mengerjakan perkara keji dan mungkar, maka tiada baginya salat yang sempurna” 

 Disamping itu, salat menyimpan berbagai macam keajaiban. Bahkan, Nabi menjadikan salat sebagai sarana untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya. Dengan salat, beban terlepaskan. Dengan salat, jiwa mendapat ketenangan. Semua sousi dari masalah dapat ditemukan dalam salat.

Sayangnya, solusi itu kian hari makin dilupakan. Kebanyakan orang Islam menjadikan salat hanya ritual peribadatan biasa yang wajib dilakukan. Padahal Allah menjajikan sebuah ‘hadiah’ yang besar bagi yang mengerjakannya. Sebagaimana keterangan dalam kitab Tuhfatul-Murid karya Syekh Ibrahim al-Bayjuri, bahwa ketika seorang hamba melaksanakan salat dua rakaat, Allah akan berkata:

عَبْدِيْ مَعَ ضَعْفِكَ أَتَيْتَ بِأَلْوَانِ الْعِبَادَةِ قِيَامًا وَرُكُوعًا وَسُجُودًا وَقِرَاءَةً وَتَهْلِيْلاً وَتَحْمِيدًا وَتَكْبِيرًا وَسَلاَمًا فَأَنَا مَعَ جَلَالَتِي                     وَعَظَمَتِي لَايَجْمَلُ مِنِّي أَنْ أَمْنَعُكَ جَنَّةً فِيْهَا أَلْوَانُ النَّعِيمِ: أَوْجَبْتُ لَكَ الجَنَّة بِنَعِيْمِهَا كَمَا عَبَدْتَنِي بِأَلْوَانِ العِبَادَةِ وَأُكْرِمَكَ بِرُؤْيَتِيْ كَمَا عَرَفْتَنِيْ بِاْلوَحْدَانِيَّةِ فَإِنِّيْ لَطِيْفٌ أَقْبِلُ عُذْرَكَ وَأَقْبِلُ اْلخَيْرَ مِنْكَ بِرَحْمَتِيْ فَإِنِّيْ أَجِدُ مَنْ أُعَذَّبُهُ مِنَ اْلكمّارِ بِالنَّارِ وَأَنْتَ لَا َتجِدُ للها غَيْرِيْ يَغْفِرُ سَيِّئَاتِكَ عِنْدِيْ لَكَ بِكُلِّ رَكْعَةٍ قَصَّرَ فِي اْلجَنَّةِ وَحَوْرَاءَ وَبِكُلِّ سَجْدَة نَظْرَة إِلَى وَجْهِي

"Wahai hamba-Ku, meskipun engkau datang dalam keadaan lemah, engkau datang membawa berbagai bentuk ibadah: berdiri (dalam salat), rukuk, sujud, membaca (Al-Qur'an), bertahlil, bertasbih, bertakbir, dan mengucapkan salam. Maka Aku, dengan segala keagungan dan kebesaran-Ku, tidaklah pantas bagi-Ku untuk menghalangimu dari surga yang penuh dengan berbagai kenikmatan. Aku telah mewajibkan untukmu surga dengan segala kenikmatannya sebagaimana engkau beribadah kepada-Ku dengan berbagai bentuk ibadah. Aku akan memuliakanmu dengan melihat kepada-Ku sebagaimana engkau telah mengenal-Ku dengan keesaan. Sesungguhnya Aku Maha Lembut, menerima alasanmu. Aku menerima kebaikan darimu dengan rahmat-Ku. Sesungguhnya Aku mendapati banyak yang pantas untuk disiksa dengan neraka, namun engkau tidak mendapatkan selain Aku yang bisa mengampuni dosa-dosamu. Di sisi-Ku, untuk setiap rakaat ada sebuah istana di surga dan seorang bidadari. Untuk setiap sujud, ada pandangan (kenikmatan) kepada wajah-Ku.”

Jadi, dari setiap uraian detail terkait salat, bisa kita ambil kesimpulan, bahwa salat adalah aspek utama yang menunjang keislaman seseorang. Didalamnya terdapat ketenangan bagi pelaksananya dan balasan yang akan Allah berikan. Maka, jadikanlah salat sebagai ‘jimat’ yang selalu kalian bawa untuk menangkal semua masalah dan mendatangkan solusi terbaik bagi kalaian.

Bagikan berita
Semua Berita